BRIN Percepat Pengembangan Teknologi AB-BNCT untuk Hadirkan Terapi Kanker Presisi

Desanesia–Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat pengembangan teknologi Accelerator-Based Boron Neutron Capture Therapy (AB-BNCT) sebagai salah satu terapi kanker berbasis teknologi nuklir yang diproyeksikan menjadi solusi pengobatan presisi di Indonesia. Pengembangan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian riset kesehatan nasional sekaligus memperluas akses terhadap teknologi terapi kanker yang lebih efektif dan minim risiko terhadap jaringan sehat.
Komitmen tersebut disampaikan Wakil Kepala BRIN, Prof. Amarulla Octavian, dalam International Tutorial and Workshop Particle and Heavy Ion Transport Code System yang digelar di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Udayana, Bali.
Forum tersebut mempertemukan peneliti, akademisi, rumah sakit, industri, serta mitra internasional untuk memperkuat kolaborasi dalam pengembangan teknologi partikel dan ion berat bagi layanan kesehatan.
Amarulla menjelaskan bahwa meningkatnya kasus kanker di Indonesia menuntut penguatan riset yang mampu menghasilkan metode diagnosis dan terapi yang lebih akurat.
Menurutnya, karakteristik kanker yang terus berkembang membuat pendekatan pengobatan harus semakin presisi dan berbasis pada perkembangan ilmu pengetahuan.
“Kanker tetap sulit ditata laksana karena karakteristiknya yang heterogen, adaptif, dan dipengaruhi mikrolingkungan tumor. Oleh karena itu, terapi masa depan akan bersifat biomarker-guided, berbasis kombinasi, dioptimalkan dari sisi delivery, dan dipantau secara dinamis,” ujar Amarulla, yang dikutip dari IPOL.id.
Teknologi AB-BNCT yang dikembangkan BRIN bekerja dengan memanfaatkan senyawa boron yang terakumulasi pada sel kanker, kemudian diaktivasi menggunakan neutron untuk menghancurkan sel kanker secara selektif dengan dampak minimal terhadap jaringan sehat.
Selain mengembangkan teknologi tersebut, BRIN saat ini juga menjalankan puluhan proyek penelitian kanker yang mencakup biomarker, radiofarmaka, nanoteknologi, hingga teknologi diagnostik sebagai bagian dari pembangunan ekosistem riset kesehatan nasional.
Menurut Amarulla, pengembangan AB-BNCT didukung oleh infrastruktur kedokteran nuklir yang telah dimiliki BRIN, seperti fasilitas cyclotron, hotlab farmasi, dan PET/CT, serta peta jalan pengembangan hingga 2029 yang mencakup pembangunan fasilitas, instalasi peralatan, proses perizinan, hingga target operasional layanan bagi pasien.
“Pendekatan multidisiplin dan kolaboratif bersama Universitas Udayana, JAEA, RSKN Dharmais, dan International Hospital Sanur Bali menjadi kunci untuk menerjemahkan riset ini menjadi manfaat nyata bagi pasien kanker di Indonesia,” kata Amarulla.
Melalui kolaborasi dengan berbagai mitra nasional dan internasional, BRIN berharap pengembangan teknologi terapi kanker berbasis AB-BNCT dapat mempercepat hilirisasi hasil riset menjadi layanan kesehatan yang aman, efektif, dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kualitas penanganan kanker di Tanah Air. [nfa]








