Opini

Menkomdigi Meutya Hafid Ungkap 4 Pola Hoaks yang Resahkan Masyarakat

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid/instagram @ duniameutya

Desanesia – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Menkomdigi) telah mengidentifikasi setidaknya empat pola hoaks berbeda yang sengaja disebarkan untuk membuat masyarakat merasa takut dan khawatir.

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menjelaskan bahwa hoaks-hoaks tersebut tidak semata-mata sekadar persoalan konten digital semata.

“Penyebaran informasi palsu bukan hanya persoalan konten digital. Karena informasi hoaks itu berdampak pada keputusan orang per orang dari hari per hari. Ada yang jadi takut keluar, ada yang khawatir ketika bekerja. Menurut saya hal itu tidak tepat, tidak benar, dan mencederai nilai-nilai demokrasi serta semangat nasionalisme di momen peringatan Hari Kemerdekaan,” ujar Meutya di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, pada, Senin, (3/8).

Tipe Pertama: Hoaks Murni Tanpa Kejadian Nyata

Kategori paling berbahaya adalah video yang menampilkan peristiwa yang sama sekali tidak pernah terjadi. Narasi dalam unggahan ini seolah-olah mengesankan terjadi aksi demonstrasi besar, namun kenyataannya kejadian tersebut hanya rekayasa digital belaka. Tipe hoaks ini dirancang untuk menciptakan kepanikan tanpa dasar fakta.

Tipe Kedua: Video Lama Tanpa Penjelasan Waktu

Banyak ditemukan video rekaman lama yang diunggah ulang tanpa memberikan penjelasan mengenai kapan peristiwa itu sebenarnya terjadi.

Berdasarkan hasil pemantauan Menkomdigi, sejumlah video yang beredar viral teridentifikasi merupakan rekaman lama yang diunggah kembali tanpa konteks waktu dan kejadian. Strategi ini membuat masyarakat mengira peristiwa baru terjadi, padahal video tersebut sudah berusia lama.

Tipe Ketiga: Gambar Lama Dengan Konteks Berbeda

Hoaks tipe ini memanfaatkan footage atau gambar lama, kemudian mengubah narasi dan konteksnya sesuai dengan tujuan pembuat. Video demonstrasi dari tahun lalu, misalnya, bisa dirubah narasi menjadi terlihat seperti peristiwa baru dengan latar belakang yang sama sekali berbeda. Perubahan konteks inilah yang membuat masyarakat tersesat dalam memahami peristiwa sesungguhnya.

Tipe Keempat: Rekayasa Lintas Negara

Pola hoaks paling canggih adalah menggabungkan kejadian dari negara lain seolah-olah terjadi di Indonesia. Video demonstrasi dari Malaysia, Singapura, atau negara Asia Tenggara lainnya bisa diubah narasi menjadi seakan-akan terjadi di kota-kota besar Indonesia. Modus ini sangat efektif karena memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat tentang latar belakang geografis dan konteks lokal.

“Teman-teman harus melihat videonya. Ada yang betul-betul hoaks karena kejadiannya tidak pernah ada. Ada yang menggunakan gambar lama dengan konteks yang berbeda. Ada pula yang menggabungkan kejadian di negara lain seolah-olah terjadi di Indonesia,” jelasnya.

Menkomdigi tidak melemparkan seluruh beban kepada masyarakat semata. Justru, informasi yang benar adalah tanggung jawab bersama, terutama bagi media massa dan jurnalis profesional.

“Informasi yang benar adalah tanggung jawab bersama. Media memiliki peran penting untuk memastikan masyarakat mendapatkan fakta, bukan informasi yang sengaja dibuat untuk menimbulkan ketakutan,” ujarnya.

Penulis

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *