Soroti Peran Teknologi dan Seni, Wamendikdasmen Buka Gelar Karya Guru Vokasi di Yogyakarta

Desanesia – Ratusan karya hasil pelatihan Upskilling dan Reskilling Guru Vokasi Bidang Seni dan Budayawan dipamerkan dalam Gelar Karya yang diselenggarakan Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Seni dan Budaya, Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi ruang apresiasi sekaligus bukti bahwa peningkatan kompetensi guru mampu melahirkan karya kreatif yang berdampak pada pembelajaran di sekolah.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq, mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan seperti ini penting untuk memastikan guru vokasi terus mengembangkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan teknologi, tanpa meninggalkan nilai orisinalitas dalam berkarya.
“Karya seni bukan sekadar hasil kreativitas, tetapi juga memiliki makna, nilai, dan jiwa. Teknologi, termasuk kecerdasan buatan, dapat dimanfaatkan sebagai pendukung proses berkarya, namun kreativitas dan keaslian tetap harus menjadi ruh utama,” ujar Fajar.
Semangat itu tercermin dari pengalaman para peserta. I Kadek Agus Satya Dwi Putra, guru seni lukis SMKN 1 Sukawati, Bali, menghadirkan lukisan yang terinspirasi dari konsep Pembelajaran Mendalam.
Menurut Kadek, sosok anak dalam lukisan melambangkan peserta didik yang terus belajar dengan kesadaran untuk meraih cita-cita dan kehidupan yang lebih baik. Nilai bermakna digambarkan melalui perpaduan budaya dan teknologi, seperti kain tenun yang dipadukan dengan laptop sebagai simbol bahwa kearifan lokal tetap harus dijaga sambil beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Sementara itu, suasana menggembirakan divisualisasikan melalui rangkulan Menteri kepada peserta didik sebagai wujud dukungan agar setiap anak tumbuh percaya diri dalam mengejar masa depannya.
“Melalui karya ini saya ingin menggambarkan bahwa pembelajaran bukan hanya tentang memperoleh pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran, menjaga budaya, memanfaatkan teknologi secara bijak, dan membangun optimisme peserta didik untuk meraih cita-citanya,” ujar Kadek.
Ia berharap pengalaman selama mengikuti pelatihan dan magang dapat dibawa kembali ke sekolah agar menginspirasi siswa untuk terus berkarya dan berinovasi.
Sementara itu, Hari Sonata, guru SMKN 3 Kasihan Yogyakarta, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru, khususnya mengenai teknik glasir sebagai proses akhir pembuatan keramik. Melalui pelatihan dan magang di industri, ia belajar meramu formula glasir yang nantinya akan diterapkan bersama peserta didik di sekolah.
“Kami berharap ilmu yang kami peroleh dapat kami tularkan kepada siswa, sehingga mereka tidak hanya mampu mengaplikasikan glasir, tetapi juga dapat meracik formula sendiri dan menciptakan inovasi baru dalam karya keramik,” ujar Hari.
Dampak pelatihan tersebut juga dirasakan oleh peserta didik. Zizta Putra Akbar Wijaya, siswa kelas XII SMKN 3 Kasihan Yogyakarta yang menampilkan karya keramik dalam pameran, mengaku semakin termotivasi untuk terus mengembangkan kemampuannya.
“Pesan saya untuk teman-teman, terus semangat dan nikmati jurusan yang telah dipilih. Kalau terus belajar dan berlatih, kemampuan kita pasti akan berkembang,” ungkap Zizta.
Melalui program Upskilling dan Reskilling, Kemendikdasmen terus mendorong guru vokasi untuk belajar, berinovasi, dan menghadirkan pembelajaran yang selaras dengan perkembangan industri. Harapannya, kompetensi yang diperoleh selama pelatihan dapat ditransformasikan menjadi pengalaman belajar yang semakin bermakna bagi peserta didik, sekaligus memperkuat pendidikan vokasi yang adaptif, kreatif, dan berdaya saing.








