Nasional

BMKG Sampaikan Strategi Mitigasi Karhutla dan Penanganan Pascagempa Flores

Rapat terbatas yang digelar secara hybrid dari Istana Merdeka, Jakarta/Ist

Desanesia– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan perkembangan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kondisi pascagempa Flores, serta dukungan informasi cuaca dan oseanografi dalam operasi pencarian dan penyelamatan kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam rapat terbatas yang digelar secara hybrid dari Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (16/9).

Dalam rapat tersebut, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa kondisi pascagempa Flores di Nusa Tenggara Timur saat ini relatif stabil sehingga proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat mulai dilakukan. BMKG telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk mendukung penyediaan data dan informasi geofisika sebagai dasar perencanaan pembangunan kembali yang lebih aman dan sesuai dengan kaidah bangunan tahan gempa.

“Kami sudah berdiskusi dengan gubernur dan Kepala Dinas PUPR untuk memberikan hasil survei kondisi tanah sehingga pembangunan kembali dapat dilakukan secara lebih terarah dan sesuai dengan kaidah bangunan tahan gempa,” ujar Faisal.

Terkait insiden KMP Virgo Transport 8, BMKG turut memberikan dukungan data meteorologi dan oseanografi untuk membantu proses pencarian dan penyelamatan. BMKG melakukan pemodelan pergerakan kapal berdasarkan data Automatic Identification System (AIS) serta menyampaikan informasi kondisi cuaca dan arus laut kepada instansi terkait.

“Pada saat kejadian, kondisi cuaca terpantau cerah berawan tanpa hujan, dengan kecepatan angin berkisar 15–20 knot, tinggi gelombang 1,5 hingga 2 meter, serta arus permukaan laut antara 0,4 sampai 1,2 knot. Informasi ini telah kami sampaikan kepada KSOP (Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan) dan digunakan sebagai salah satu referensi dalam operasi pencarian dan penyelamatan,” jelasnya.

Sementara itu, terkait penanganan karhutla, BMKG terus melakukan pemantauan kondisi atmosfer, sebaran asap, serta arah pergerakan polutan untuk mendukung langkah mitigasi yang dilakukan pemerintah. BMKG juga terus mendukung pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilaksanakan bersama BNPB, kementerian terkait, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Faisal menjelaskan bahwa hasil analisis BMKG menunjukkan sebagian asap yang terpantau di wilayah Riau dipengaruhi oleh pergerakan massa udara dari wilayah lain di Sumatera. Menururtnya, kondisi musim kemarau yang dipengaruhi El Niño masih berpotensi meningkatkan risiko karhutla hingga beberapa pekan ke depan.

“Puncak musim kemarau diprakirakan masih berlangsung hingga akhir Oktober 2026. Oleh karena itu, upaya pencegahan, kesiapsiagaan, dan mitigasi perlu terus diperkuat sampai memasuki periode musim hujan,” tambahnya.

Dalam rapat tersebut, Presiden Prabowo Subianto meminta seluruh jajaran pemerintah untuk tetap menjaga kesiapsiagaan dan memperkuat koordinasi dalam menghadapi ancaman karhutla yang masih berpotensi terjadi dalam satu setengah bulan ke depan.

“Kita harus punya stamina dan ketahanan. Tadi sudah dilaporkan satu setengah bulan ke depan masih cukup rawan, tetapi kita akan mencari langkah-langkah solusi yang menyeluruh,” ujar Presiden.

Presiden juga menekankan pentingnya menjadikan penanganan karhutla saat ini sebagai pembelajaran untuk memperkuat sistem mitigasi di masa mendatang. Menurutnya, langkah pencegahan dan kesiapsiagaan harus terus diperkuat agar penanganan karhutla dapat dilakukan secara lebih cepat, terpadu, dan efektif.

Melalui dukungan data, informasi, dan layanan peringatan dini, BMKG terus berkomitmen mendukung pengambilan keputusan berbasis sains dalam penanganan bencana, pengurangan risiko, serta perlindungan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. [nfa]

Penulis

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *