Teguh Santosa: Pers Harus Cepat, Kreatif, tapi Tetap Beretika

Desanesia– Pelantikan pengurus Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Bengkulu periode 2025–2030 digelar di Hotel Mercure Bengkulu, Senin (27/4), dengan dihadiri sejumlah tokoh nasional dan daerah.
Ketua Umum JMSI Pusat, Teguh Santosa, menegaskan bahwa JMSI Bengkulu telah memiliki fondasi kuat dalam membangun ekosistem pers yang sehat.
“Karena di bawah kepemimpinan Bung Riki inilah JMSI Bengkulu telah meletakkan fondasi yang kokoh,” katanya.
Kolaborasi dengan pemerintah daerah, kata dia, pembinaan anggota, serta komitmen menjaga marwah jurnalisme telah dijalankan dengan baik okeh teman-teman JMSI Bengkulu.
Teguh menyatakan akan menarik Riki ke tingkat pusat. Itu sebabnya Bung Riki saya “pinjam” dulu ke Jakarta, Pak Asisten, untuk menjadi Kepala Sekretariat JMSI.
Teguh juga menyinggung Mars JMSI yang lahir dari Bengkulu. “Dr. Rahimandani adalah sosok yang menciptakan syair Mars JMSI. Jadi Mars JMSI itu juga lahir dari Bengkulu. Hanya saja hari ini saya agak kaget karena musiknya diaransemen ulang,” ujarnya.
Ia menambahkan, perubahan aransemen membuatnya kesulitan saat menyanyikan lagu tersebut.
“Ada beberapa bagian yang sedikit berbeda, misalnya pada bagian ‘Undang-Undang Dasar 1945’-nya. Jadi sebaiknya kita kembali ke versi asli saja,” tegasnya.
Teguh mengucapkan selamat kepada Ketua JMSI Bengkulu terpilih, Dedy Herdiansyah Putra.
“Saya yakin di tangan Bung Deddy dan kawan-kawan, JMSI akan semakin kokoh,” paparnya.
Ia turut menyoroti tantangan dunia pers di era digital. Sekarang siapa pun bisa memproduksi teks, gambar, suara, bahkan video yang sulit dibedakan antara asli dan rekayasa. Inilah era post-truth, di mana keyakinan sering kali lebih dominan daripada fakta.
Menurutnya, kondisi tersebut menuntut pers untuk tetap berpegang pada prinsip dasar jurnalistik. Ketika publik dibanjiri informasi yang sulit diverifikasi, pers harus menjadi mercusuar yang berpegang pada kode etik, verifikasi, dan kepentingan publik.
Ia juga berpesan kepada pengurus JMSI Bengkulu. Jadilah rumah bagi jurnalisme yang cepat tetapi tidak ugal-ugalan, yang kreatif tetapi tetap beretika.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian HAM Sumatera Selatan, Hendry Marulitua, menekankan pentingnya peran media dalam perlindungan hak asasi manusia.
“Media siber tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga menjadi ruang publik yang sangat berpengaruh dalam membentuk opini, menyebarkan informasi yang netral dan bertanggung jawab, serta mengawal isu-isu hak asasi manusia,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan berbagai tantangan di era digital. Terdapat berbagai tantangan seperti penyebaran misinformasi dan disinformasi, ujaran kebencian, pelanggaran privasi, hingga potensi pelanggaran HAM di ruang digital.
Pemerintah Provinsi Bengkulu melalui Asisten Administrasi Umum Setda, Nandar Munadi, menegaskan pentingnya peran JMSI dalam menjaga kualitas informasi.
“Pengukuhan ini bukan sekadar seremoni prosedural, melainkan titik awal perjuangan dalam menata ekosistem media siber yang sehat di Bumi Merah Putih,” ujarnya. [nfa]








