Inspirasi

Sereh Wangi Jadi Harapan Baru Warga Desa Pulu Manfaatkan Lahan Pascabanjir

Sereh wangi/Jakarta.suaramerdeka.com

Desanesia–  Lahan pasir yang terbentuk akibat banjir berulang di Desa Pulu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, kini mulai memberi harapan baru bagi masyarakat. Melalui penanaman sereh wangi, warga tidak hanya berupaya memulihkan lingkungan yang rusak, tetapi juga membangun sumber penghasilan baru berbasis ekonomi restoratif.

Desa Pulu merupakan salah satu wilayah yang terdampak banjir pascagempa dan hujan ekstrem. Selama beberapa tahun terakhir, bencana tersebut mengubah lahan pertanian menjadi hamparan pasir sehingga produktivitas pertanian menurun drastis. Pada periode 2020–2021, banjir berdampak pada sekitar 1.365 warga dan menyebabkan kerugian besar bagi petani yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian skala kecil.

Berangkat dari kondisi tersebut, Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Pulu, Dilah Sahim, memperkenalkan budidaya sereh wangi sebagai bagian dari upaya restorasi lahan. Tanaman ini dipilih karena mampu tumbuh di tanah berpasir dengan sistem perakaran yang membantu mengurangi erosi dan memperkuat bantaran sungai, terutama ketika dipadukan dengan tanaman bambu.

“Di awal kami tidak berpikir soal bisnis sama sekali. Yang penting lahan aman dan tidak semakin rusak, soal ekonomi itu datang belakangan,” ujar Dilah.

Seiring membaiknya kondisi lahan, sereh wangi mulai memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Daunnya diolah menjadi minyak atsiri yang kemudian dikembangkan menjadi berbagai produk, seperti minyak pijat, sabun herbal berbahan daun kelor, lilin aromaterapi berbahan lilin lebah, hingga parfum padat melalui usaha desa bernama Lana Tumbavani.

Meski kapasitas produksi masih terbatas, kualitas minyak atsiri yang dihasilkan berhasil menarik minat pembeli dari luar negeri, termasuk Malaysia, Nepal, dan Amerika Serikat. Produk-produk tersebut membawa cerita tentang pemulihan lingkungan yang menjadi identitas utama usaha desa tersebut.

Dalam pengembangannya, BUMDes Pulu mendapat pendampingan dari Gampiri Interaksi melalui program inkubasi GIAT 2.0. Pendampingan difokuskan pada penguatan model bisnis tanpa meninggalkan prinsip ekonomi restoratif yang menempatkan pemulihan alam sebagai fondasi utama pertumbuhan ekonomi.

“Kami melihat ini sebagai praktik ekonomi restoratif, bukan bisnis konvensional. Alam dipulihkan, masyarakat bergerak, dan produk punya nilai yang jelas. Kalau salah satu dilepas, model ini runtuh,” kata perwakilan Gampiri Interaksi, Nedya Sinintha Maulaning.

Menurut Dilah, keberhasilan usaha tersebut tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan memulihkan lingkungan. Ia menilai keberlanjutan ekonomi masyarakat bergantung pada kondisi alam yang tetap terjaga.

“Kalau lingkungannya tidak pulih, tidak akan ada produk, dan tidak akan ada pendapatan. Yang kami lakukan hanya membuktikan bahwa merawat alam bisa langsung berdampak ke ekonomi warga,” ujarnya.

Nedya menambahkan, pendekatan ekonomi restoratif membalik pola pembangunan yang selama ini lebih menitikberatkan pada eksploitasi sumber daya alam.

“Biasanya alam diperas dulu, baru ekonomi dibagi. Di sini justru alam dipulihkan dulu, baru ekonomi tumbuh. Itu yang membuatnya lebih tahan lama,” katanya.

Praktik yang dijalankan Desa Pulu kini menjadi salah satu contoh pengembangan ekonomi desa yang menggabungkan pemulihan lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat. Melalui budidaya sereh wangi, lahan yang sebelumnya dianggap tidak produktif perlahan berubah menjadi sumber penghidupan baru sekaligus bagian dari upaya menjaga kelestarian alam. [nfa]

Penulis

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *