Opini

Muhadjir Effendy: Kampus Muhammadiyah Jangan Dibawa Melewati Jalan yang Sempit

Ketua PP Muhammadiyah, Muhadjir Effendy dalam Silaturahmi Pimpinan UMM dengan Wali Mahasiswa/ Muhammadiyah

Desanesia – Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) diminta menjadi ruang dakwah yang inklusif melalui pendidikan, keteladanan, dan interaksi akademik. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, menegaskan kampus Muhammadiyah tidak boleh menjadi tempat yang hanya terbuka bagi kelompok internal, melainkan harus merangkul masyarakat dengan latar belakang yang beragam.

Hal tersebut ia sampaikan dalam kuliah tamu dan silaturahim bersama jajaran Pimpinan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, bertempat di Ruang Rapat Senat, Lantai 17 Gedung Iqra, Kamis, (16/7).

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhadjir Effendy menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak boleh menjadi pagar yang justru membuat masyarakat merasa sulit masuk dan menjadi bagian dari gerakan.

“Muhammadiyah harus lebih inklusif. Jangan segera membuat barikade karena banyak orang menjalani proses bermuhammadiyah dalam perjalanan yang panjang,” tegasnya dikutip dari muhammadiyah.or.id.

Ia menjelaskan, lingkungan kampus Muhammadiyah (Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah/PTMA) bukan sekadar tempat berkumpulnya orang-orang yang sejak awal memahami dan menjalankan seluruh tradisi Muhammadiyah.

Sebaliknya, PTMA juga harus membuka ruang bagi masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Menurutnya, sektor perguruan tinggi lewat pendidikan, interaksi akademik, keteladanan, dan pembinaan mahasiswa maupun tenaga pendidik, bisa menjadi ruang untuk mengenalkan nilai-nilai Islam dan Muhammadiyah secara bertahap.

Muhadjir juga mengenang pengalamannya ketika memimpin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang menerima keterbukaan mahasiswa dari beragam daerah, agama, tradisi, dan kondisi sosial. Menurutnya, keterbukaan itu bukan berarti menghilangkan identitas Muhammadiyah, melainkan justru menjadi jalan baik untuk memperluas jangkauan dakwah.

“Jadi Perguruan tinggi Muhammadiyah adalah sarana dakwah. Jangan sampai kita terlalu keras menetapkan standar sehingga orang lain tidak bisa masuk ke dalamnya,” ujarnya.

Menurutnya, hal ini selaras dengan cita-cita Muhammadiyah.

“Bukan hanya melayani kelompok internal, melainkan menghadirkan nilai Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam,” ujarnya.

Semangat inklusivitas seperti yang terjadi di rumah sakit Muhammadiyah itu, menurut Muhadjir, juga perlu dipelihara di lembaga pendidikan. Kampus perlu memberikan pelayanan pendidikan terbaik kepada siapa pun, sekaligus memperkenalkan nilai-nilai Islam lewat praktik yang santun dan mencerahkan.

“Muhammadiyah jangan dibawa melewati jalan yang sempit. Banyak jalan untuk meraih dan mengajak masyarakat,” ujarnya.

Penulis

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *