JFF 2026 Resmi Ditutup, Wagub Rano: Ini Kegiatannya Warga!

Desanesia – Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Rano Karno, menutup Jakarta Future Festival (JFF) 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, pada Minggu, (7/6) malam.
Dalam sambutannya, Wagub Rano menegaskan, JFF merupakan ruang kolaborasi lintas sektor untuk merancang masa depan Jakarta sebagai kota global. Festival tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan ruang bersama untuk bertukar gagasan dan membangun masa depan Jakarta secara kolektif.
“Setelah tiga hari Jakarta Future Festival dilaksanakan, hari ini kita tutup dengan kegiatan yang sangat luar biasa. Festival ini bukan pertemuan biasa, tetapi menjadi wadah untuk menghadirkan gagasan. Kita banyak mendengar masukan, dan nantinya akan kita kolaborasikan dalam pembangunan Jakarta ke depan,” ujarnya.
Menurut Wagub Rano, tema “Menavigasi Resiliensi” dipilih karena mencerminkan daya lenting warga Jakarta dalam menghadapi berbagai tantangan, mulai dari persoalan geografis, perubahan iklim, banjir, kemacetan, hingga tekanan ekonomi perkotaan.
“Temanya menavigasi resiliensi, atau mengarahkan tentang ketangguhan. Jakarta ini hidup karena warganya tangguh. Itu yang menjadi benang merahnya,” katanya.
Selama tiga hari pelaksanaan, JFF 2026 menghadirkan 52 sesi diskusi yang terdiri atas 45 Urban Talks dan tujuh Jakarta Forecast. Festival ini melibatkan 250 pembicara, termasuk 10 pembicara internasional, serta menghadirkan 27 pertunjukan musik dan seni budaya.
Salah satu agenda utama festival ini ialah Jakarta’s Forecast: Jakarta 500 – Memory, Character, and the Future of a Global City. Forum tersebut mengajak publik merefleksikan identitas Jakarta menjelang usia kota yang ke-500 pada 22 Juni 2027 mendatang.
Wagub Rano menandaskan, peringatan lima abad Jakarta harus menjadi perayaan bersama seluruh warga, bukan sekadar agenda formal pemerintah. Karena itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mendorong keterlibatan seniman, budayawan, komunitas, sekolah, RT/RW, pelaku UMKM, hingga media untuk merayakan Jakarta melalui ruang-ruang keseharian mereka.
“Dikatakan bahwa kegiatan ini bukan kegiatan pejabat, melainkan kegiatan warga. Pemerintah hanya mendukung,” tandasnya.








