Daerah

Imbas Kekeringan, Ratusan Hektare Sawah di Tangerang Gagal Panen

Petugas dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tangerang sedang meninjau aliran irigasi perpompaan/Pemkab Tangerang
Petugas dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tangerang sedang meninjau aliran irigasi perpompaan/Pemkab Tangerang

Desanesia – Krisis kekeringan ekstrem akibat musim kemarau panjang kian meluas di wilayah penyangga ibu kota. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang mencatat, akumulasi lahan persawahan di wilayah pedesaan yang terdampak kekeringan kini telah menembus angka 667,05 hektare.

Dari total luasan tersebut, sedikitnya 340 hektare lahan sawah di antaranya sudah resmi dinyatakan gagal panen atau puso. Kondisi ini memicu kekhawatiran para petani desa yang kehilangan sumber mata pencaharian utama mereka musim ini.

Kepala DPKP Kabupaten Tangerang, Ujang Sudiartono, menjelaskan bahwa krisis air ini sudah tersebar di 53 desa yang terletak di 17 kecamatan. Menurutnya, ketiadaan curah hujan membuat pasokan air pada saluran irigasi menyusut drastis hingga mengering total.

“Dampak kemarau panjang ini membuat sebagian area sawah yang jauh dari aliran sungai utama tidak bisa teraliri air sama sekali,” ujar Ujang dalam siaran pers yang dikutip dari RRI, Sabtu, (17/10)

Ujang menambahkan, saat ini ada sekitar 230 hektare lahan lainnya yang berstatus kritis dan terancam menyusul puso jika hujan tidak turun dalam waktu dekat. Sementara itu, sisa lahan pertanian lainnya dilaporkan masih bisa diselamatkan karena masuk masa panen lebih awal dengan sisa air yang ada.

Untuk menahan laju kerugian yang dialami para petani pedesaan, Pemerintah Kabupaten Tangerang langsung menyalurkan paket mitigasi darurat ke lapangan. Bantuan yang dikerahkan meliputi mesin pompa pengairan, pasokan pupuk, hingga bibit substitusi yang lebih tahan terhadap cuaca panas.

DPKP juga telah menerjunkan para penyuluh pertanian lapangan (PPL) ke tiap desa terdampak. Langkah ini diambil guna memandu para petani lokal agar segera mengganti pola tanam ke komoditas non-padi yang lebih hemat air demi menjaga stabilitas ekonomi keluarga mereka.[yud]

Penulis

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *