Guardians of Forest Wildlife: Langkah FKH UGM Tekan Penurunan Populasi Satwa Liar

Desanesia – Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM) menggelar The 1st Gadjah Mada Veterinary Medicine International Summer Course 2026 bertema Guardians of Forest Wildlife, yang berlangsung di Yogyakarta pada 12–15 Juli 2026.
Ketua Pelaksana Program, Dr. drh. Berlin Pandapotan Pardede, M.Si., menjelaskan bahwa tema tersebut dipilih sebagai respons atas meningkatnya tantangan konservasi satwa liar di tingkat global. Banyak spesies saat ini mengalami penurunan populasi secara drastis akibat hilangnya habitat, perubahan iklim, dan berbagai tekanan lain akibat aktivitas manusia. Karena itu, konservasi tidak lagi bisa mengandalkan pendekatan konvensional semata.
“Kita membutuhkan inovasi melalui bioteknologi reproduksi, seperti assisted reproductive technologies (ART), biobanking, preservasi sel, teknologi stem cell, serta berbagai pendekatan ilmiah lainnya untuk mendukung peningkatan populasi satwa liar yang terancam punah. Namun, kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan kolaborasi internasional yang kuat, karena tantangan konservasi merupakan tanggung jawab bersama masyarakat global,” ujar Berlin.
Ia menambahkan, program yang didukung oleh LPDP melalui Hibah Inovasi ini merupakan bagian dari upaya FKH UGM untuk memperkuat internasionalisasi akademik lewat pendidikan berkualitas, pertukaran pengetahuan, dan kolaborasi lintas disiplin. Program ini diharapkan menjadi ruang bagi lahirnya jejaring ilmiah internasional yang mempertemukan generasi muda, akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara.
“Kami percaya bahwa masa depan konservasi turut ditentukan oleh kemampuan kita membangun kolaborasi global. Melalui program ini, kami ingin melahirkan generasi baru Guardians of Forest Wildlife yang memiliki perspektif internasional, kompetensi ilmiah yang kuat, serta komitmen untuk menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati dunia,” tutupnya.
Program ini diikuti oleh 26 peserta dari 11 negara, yaitu Filipina, Malaysia, Vietnam, Brunei Darussalam, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, Singapura, Hong Kong, Sri Lanka, dan Britania Raya.
Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., menyampaikan bahwa UGM mendorong kolaborasi internasional untuk menjawab berbagai tantangan global yang semakin kompleks, termasuk konservasi keanekaragaman hayati, perubahan iklim, kesehatan satwa liar, dan ancaman penyakit zoonosis.
“Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun jejaring internasional, menghasilkan inovasi berbasis ilmu pengetahuan, serta menyiapkan sumber daya manusia yang mampu memberikan solusi bagi berbagai persoalan global,” tegasnya, Rabu (15/7).
Ketua Program Summer Course, Dr. drh. Hery Wijayanto, M.P., mengatakan berbagai tantangan global seperti penyakit zoonosis, degradasi habitat, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga perubahan iklim tidak bisa diselesaikan hanya lewat satu disiplin ilmu. Dibutuhkan kolaborasi erat antara kedokteran hewan, biologi, zoologi, ilmu lingkungan, bioteknologi, kesehatan masyarakat, hingga ilmu sosial.
“Konservasi satwa liar bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem yang pada akhirnya akan berdampak pada kesehatan manusia dan keberlanjutan lingkungan. Karena itu, kami mengembangkan program ini berdasarkan pendekatan One Health, sehingga peserta dapat memahami bahwa solusi terhadap berbagai tantangan konservasi harus dibangun melalui kolaborasi lintas disiplin dan lintas sektor,” jelas Hery.
Menurut mahasiswa Program Veterinary Medicine dari Azabu University, Jepang, Minami Ayane, Summer Course ini menjadi kesempatan untuk melihat langsung bagaimana ilmu kedokteran hewan berperan penting dalam konservasi satwa liar, mulai dari pendekatan reproduksi, kesejahteraan satwa, hingga pengelolaan populasi spesies yang terancam punah.
“Selama ini saya banyak mempelajari teori di kampus, tetapi di UGM saya dapat melihat secara langsung bagaimana dokter hewan berkontribusi dalam pemeriksaan kesehatan satwa liar, teknologi reproduksi, hingga upaya konservasi spesies yang terancam punah,” ujar Minami.








