Gelas Anggur & Tantangan Ekonomi Indonesia

Desanesia – Alm. Rizal Ramli menggambarkan ketimpangan akses pembiayaan dalam perekonomian Indonesia, ibarat “gelas anggur”.
Secara konstitusional tugas negara tidak hanya memberi pekerjaan, melainkan juga melindungi, melayani, dan menyejahterakan rakyat. Salah satu cara paling efektif untuk mencapai kesejahteraan melalui penciptaan lapangan kerja yang luas dan produktif,
“Cara terbaik untuk mencapainya bukan dengan membagikan bantuan secara terus-menerus, melainkan dengan menciptakan lapangan kerja yang layak, produktif, dan berkelanjutan. Rakyat yang bekerja akan memiliki penghasilan, daya beli meningkat, ekonomi bergerak, dan pada akhirnya kesejahteraan dapat terwujud secara lebih bermartabat,” ujar Pemerhati Kebijakan Publik Syafril Sjofyan pada, Senin, (22/6).
Negara tidak cukup hanya hadir melalui program bantuan sosial. Tanggung jawab yang lebih mendasar adalah menciptakan iklim ekonomi yang mampu membuka jutaan lapangan kerja. Sebab pekerjaan memberikan pendapatan, kepastian hidup, dan martabat, sedangkan ketergantungan pada bantuan hanya menyelesaikan masalah jangka pendek.
Dalam konteks Indonesia saat ini, ukuran keberhasilan pemerintah seharusnya tidak hanya dilihat dari besarnya anggaran bantuan sosial seperti MBG dan lainnya atau proyek infrastruktur, tetapi juga dari tingkat penyerapan tenaga kerja. Kualitas pekerjaan dan tingkat upah. Kemudahan berusaha bagi UMKM. Pertumbuhan industri yang menciptakan nilai tambah. Menurunnya angka kemiskinan dan pengangguran secara berkelanjutan.
Karena pada akhirnya, rakyat tidak membutuhkan “belas kasihan negara”, melainkan kesempatan untuk bekerja, berusaha, dan hidup sejahtera dengan hasil jerih payahnya sendiri.
UMKM memiliki peran yang sangat besar dalam penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Berdasarkan berbagai data pemerintah dalam beberapa tahun terakhir, sektor UMKM menyerap sekitar 97% tenaga kerja nasional dan mencakup hampir seluruh unit usaha di Indonesia. Menunjukkan dominasi UMKM sebagai penyedia lapangan kerja terbesar.
Dari perspektif kebijakan publik, fakta ini menghasilkan beberapa kesimpulan penting UMKM adalah tulang punggung ekonomi rakyat dan penyerapan tenaga kerja. Kebijakan ekonomi yang terlalu berfokus pada korporasi besar belum tentu berdampak langsung pada penciptaan lapangan kerja massal. Kemudahan perizinan, akses modal murah, kepastian hukum, dan perluasan pasar bagi UMKM seharusnya menjadi prioritas utama pemerintah.
“Setiap UMKM yang bertahan dan berkembang berpotensi menciptakan lapangan kerja baru tanpa harus menunggu investasi besar. Jika lebih dari 90% tenaga kerja Indonesia diserap oleh UMKM, maka seharusnya kebijakan ekonomi nasional menempatkan UMKM sebagai prioritas utama. Negara tidak akan mampu mengatasi pengangguran hanya dengan mengandalkan proyek-proyek besar dan investasi raksasa. Penguatan UMKM melalui akses permodalan, perlindungan usaha, dan perluasan pasar jauh lebih efektif untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan rakyat,” ujarnya.
Ketika UMKM menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, maka keberhasilan pemerintah seharusnya diukur dari seberapa banyak UMKM tumbuh dan naik kelas, bukan semata-mata dari besarnya investasi yang masuk. Sebab rakyat bekerja dan memperoleh penghasilan terutama melalui sektor UMKM, bukan dari segelintir perusahaan besar.
Almarhum Dr. Rizal Ramli, begawan Ekonomi mengibaratkan ekonomi Indonesia seperti gelas anggur. Ketimpangan akses pembiayaan di Indonesia. Bagian mangkuk gelas yang besar adalah kredit perbankan yang mengalir deras kepada konglomerasi dan perusahaan besar. Data 2023 sebanyak 87% kredit diborong konglomerat dengan akses mudah berbiaya murah.
Batang gelas yang kecil adalah aliran kredit yang menetes ke sektor usaha menengah. Sementara alas gelas yang menopang seluruh struktur ekonomi adalah UMKM yang menyerap mayoritas tenaga kerja, tetapi justru menerima porsi pembiayaan yang relatif kecil, hanya 12,5% dengan akses sulit biaya bunga tinggi.
Analogi ini mengingatkan bahwa pembangunan ekonomi yang sehat tidak cukup hanya memperkuat kelompok usaha besar, tetapi juga harus memperluas akses modal bagi jutaan pelaku UMKM yang menjadi fondasi ekonomi rakyat.
Pesan yang ingin disampaikan alm. Rizal Ramli adalah bahwa struktur pembiayaan Indonesia sering kali tidak sejalan dengan struktur penyerapan tenaga kerja. Di satu sisi, UMKM menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, tetapi di sisi lain akses mereka terhadap modal, kredit murah, dan dukungan perbankan masih terbatas dibandingkan kelompok usaha besar.
Sebagai catatan, analogi ini merupakan kritik terhadap distribusi pembiayaan dan kebijakan ekonomi Indonesia, bagaimana menciptakan keseimbangan agar sektor UMKM memperoleh akses pembiayaan yang lebih proporsional dengan kontribusinya terhadap lapangan kerja dan ekonomi nasional bisa naik kelas menjadi perusahaan besar.
*By Syafril Sjofyan
*Pemerhati Kebijakan Publik, Aktivis Pergerakan 77-78, Sekjen APP-Bangsa, Sekjen Forum Tanah Air








