Anak Krakatau Berstatus Siaga, Kapal di Selat Sunda Diminta Waspada

Desanesia– Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meningkatkan status aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, yang berada di antara Provinsi Lampung dan Banten, dari level II (waspada) menjadi level III (siaga).
Menyikapi peningkatan status tersebut, Kepala Kantor KSOP Kelas I Banten Raden Yogie Nugraha mengimbau seluruh kapal yang beroperasi dan melintas di perairan Selat Sunda agar meningkatkan kewaspadaan demi menjaga keselamatan pelayaran.
“Sehubungan dengan peningkatan status aktivitas Gunung Anak Krakatau di Perairan Selat Sunda menjadi Level III (Siaga) berdasarkan informasi resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), dengan ini disampaikan kepada seluruh Nakhoda, Pemilik/Pengusaha Kapal, Perusahaan Pelayaran, Agen Kapal, serta seluruh pengguna jasa angkutan laut yang melaksanakan pelayaran di Perairan Selat Sunda agar meningkatkan kewaspadaan demi keselamatan pelayaran,” kata Raden Yogie Nugraha dalam keterangannya, Sabtu pagi (4/7).
Raden Yogie menyampaikan lima arahan menyusul peningkatan status Gunung Anak Krakatau menjadi level III (siaga). Arahan tersebut meliputi peningkatan kewaspadaan terhadap potensi letusan, lontaran material, abu vulkanik, dan gangguan keselamatan pelayaran; kewajiban nakhoda memantau informasi resmi dari PVMBG, BMKG, dan instansi terkait; larangan bagi kapal mendekati radius lima kilometer dari kawah aktif; perencanaan pelayaran dengan memperhatikan kondisi cuaca, arah sebaran abu vulkanik, dan informasi keselamatan pelayaran; serta kewajiban nakhoda segera melakukan tindakan penghindaran dan melaporkan kepada Vessel Traffic Service (VTS), Stasiun Radio Pantai, syahbandar terdekat, atau instansi terkait apabila menemukan indikasi bahaya yang dapat mengganggu keselamatan pelayaran.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan peningkatan status aktivitas Gunung Anak Krakatau didasarkan pada hasil pemantauan visual dan instrumental yang menunjukkan kenaikan signifikan aktivitas gunung api tersebut dalam beberapa waktu terakhir.
“Peningkatan aktivitas ini menunjukkan adanya suplai magma ke permukaan, sehingga masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati kawah aktif dalam radius yang telah direkomendasikan,” kata Lana Saria. [nfa]








