BNPB: Ribuan Hektare Lahan Terbakar di Papua, 359 Hektare di Sumatra-Kalimantan

Desanesia – Lonjakan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dilaporkan melanda beberapa wilayah Indonesia, dengan dampak paling signifikan terjadi di wilayah Papua yang mencapai luas 2.393 hektare. Sementara itu, akumulasi lahan terbakar di empat provinsi di Pulau Sumatra dan Kalimantan tercatat berada di angka 359 hektare.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Suar Pelita Panjaitan, menegaskan kendati ada kenaikan titik api di timur Indonesia, wilayah barat tetap menjadi fokus atensi utama petugas.
“Penanganan karhutla di Pulau Sumatra maupun Kalimantan sebagai prioritas kita selama ini, saat ini di empat provinsi terdapat 359 hektar,” papar Berton dalam agenda pemaparan Info Bencana Terkini pada Rabu (28/10) malam.
Berdasarkan pantauan terkini, sebaran area yang terbakar di kawasan Sumatra dan Kalimantan meliputi Sumatra Selatan seluas 262 hektare, Kalimantan Selatan 75 hektare, Kalimantan Barat 12 hektare, serta Kalimantan Tengah 10 hektare.
“Data ini kami peroleh dari satelit, baru hari ini kami mendapati ada kejadian-kejadian kebakaran lagi di empat provinsi yang kami sampaikan ini,” jelasnya.
Untuk memaksimalkan pergerakan satgas darat di zona terdampak, BNPB telah menyalurkan berbagai dukungan sarana pemadaman. Pasokan logistik tersebut mencakup selang pemadam, selang hisap, pompa jinjing, nosel, instrumen komunikasi, pompa punggung, sepatu pemadam, hingga gebyok api.
Di sisi lain, eskalasi karhutla di tanah Papua kini terus dipantau secara ketat. Menilik laporan resmi yang dihimpun dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, total kerusakan lahan hijau di sana sudah menyentuh angka ribuan hektare.
“Pemantauan karhutla di wilayah Papua, kita mendapati ada 2.393 hektar lahan terbakar,” tutur Berton.
Kondisi ini diperkuat dengan fluktuasi hotspot, di mana BNPB mendeteksi setidaknya ada 73 titik api baru dalam kurun waktu 12 jam terakhir di sektor selatan dan tengah Papua. Peristiwa kebakaran aktif di antaranya dilaporkan masih berkobar di wilayah Kota Sorong dan Kabupaten Merauke.
Jika dijabarkan per provinsi, klaster wilayah Papua Barat Daya mencakup area terbakar paling luas yakni 2.131,4 hektare. Disusul oleh Papua Selatan dengan luasan 161,5 hektare dan Papua Tengah setotal 100,2 hektare.
Secara lebih spesifik, titik koordinasi kebakaran tersebut tersebar di Kabupaten Raja Ampat: 1.505 hektare, Kabupaten Sorong Selatan: 604,2 hektare, Kabupaten Nabire: 100,2 hektare, Kabupaten Merauke: 71,5 hektare, Kabupaten Mappi: 70 hektare, Kabupaten Boven Digoel: 20 hektare, Kota Sorong: 17,2 hektare, dan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Makbon: 5 hektare.
Berton memaparkan bahwa pemadaman api di region Papua dihadapkan pada hambatan geografis yang cukup kompleks, terutama aksesibilitas bagi para personel di lapangan.
“Di ketiga provinsi ini akan mendapatkan kendala yang sulit juga untuk dijangkau sehingga pemadaman di sana juga relatif mengalami kesulitan karena memang wilayah ada yang terlalu jauh untuk kita jangkau,” ujarnya.
Selain krisis lingkungan di Papua, Sumatra, dan Kalimantan, insiden karhutla dalam skala lokal juga melanda Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, serta Kota Malang, Jawa Timur.
Peristiwa kebakaran di Toraja Utara menghanguskan area vegetasi seluas 7 hektare dan sempat mengancam kompleks situs kuburan batu bersejarah di Lembang Rangkri serta Lembang Ratte. Meski demikian, aparat memastikan kondisi api di kawasan tersebut saat ini sudah berhasil dipadamkan total.
Sementara itu, situasi di TPA Supit Urang, Kota Malang, dilaporkan masih membutuhkan penanganan intensif sejak pertama kali teridentifikasi pada Kamis (22/10), dengan luasan dampak kerusakan yang melampaui 15 hektare.
“Untuk kebakaran TPA yang terjadi di TPA Supit Urang di Kota Malang, ini terjadi sejak tanggal 22 Oktober dan ini sudah lahan yang terbakar sebesar 15 hektar lebih dan kami tetap menyampaikan agar pemerintah daerah cepat segera untuk melakukan pemadaman lahan terbakar yang ada di TPA,” pungkas Berton.[yud]









