Nasional

Kemenkes Tegaskan Kenaikan Temuan HIV di Sidoarjo Dipicu Perluasan Skrining

Masyarakat Kabupaten Sidoarjo/Ist

Desanesia–Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI meluruskan informasi terkait meningkatnya jumlah temuan kasus HIV di Kabupaten Sidoarjo. Kemenkes menegaskan bahwa bertambahnya jumlah kasus yang terdeteksi tidak serta-merta menunjukkan peningkatan penularan, melainkan merupakan hasil dari semakin luasnya layanan skrining HIV yang dilakukan di berbagai fasilitas kesehatan dan layanan berbasis komunitas.

Berdasarkan data kumulatif sejak 2001 hingga Juni 2026, terdapat 1.183 kasus HIV yang ditemukan pada kelompok usia 0–24 tahun di Kabupaten Sidoarjo. Temuan tersebut mencakup 117 kasus pada anak usia 0–10 tahun, 60 kasus pada remaja usia 11–17 tahun, dan 1.006 kasus pada kelompok usia 18–24 tahun. Kemenkes menilai data tersebut menjadi dasar untuk memperkuat upaya deteksi dini, pengobatan, serta edukasi pencegahan HIV di berbagai kelompok masyarakat.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, dr. Andi Saguni, MA, mengatakan HIV merupakan penyakit kronis yang dapat dikendalikan apabila penderita menjalani terapi antiretroviral (ARV) secara rutin. Ia mengajak masyarakat untuk tidak takut menjalani tes HIV apabila memiliki faktor risiko atau mendapat rekomendasi dari tenaga kesehatan.

“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk tidak takut melakukan tes HIV apabila memiliki faktor risiko atau direkomendasikan oleh tenaga kesehatan. Mengetahui status HIV sejak dini merupakan langkah penting untuk melindungi diri sendiri, pasangan, dan keluarga. HIV dapat dikendalikan dengan pengobatan yang diminum secara teratur, sehingga orang dengan HIV dapat hidup sehat, produktif, dan tetap berkontribusi bagi masyarakat,” ujar Andi dalam siaran pers di Jakarta, Sabtu (25/7).

Kemenkes juga menyampaikan telah melakukan supervisi program HIV di Kabupaten Sidoarjo untuk melakukan klarifikasi dan verifikasi data yang beredar di masyarakat sekaligus mengevaluasi pelaksanaan program pencegahan, deteksi dini, pengobatan, dan pendampingan bagi orang dengan HIV. Pemerintah turut memperkuat layanan Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA), termasuk mendorong seluruh ibu hamil menjalani pemeriksaan HIV sebagai bagian dari pelayanan antenatal terpadu.

Kemenkes menegaskan bahwa keberhasilan penanggulangan HIV tidak hanya diukur dari menurunnya infeksi baru, tetapi juga dari semakin banyaknya masyarakat yang mengetahui status HIV sejak dini, segera memulai terapi ARV, dan mempertahankan pengobatan secara berkelanjutan. Karena itu, masyarakat diimbau menghentikan stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV agar target 95-95-95 dan Ending AIDS 2030 dapat tercapai. [nfa]

Penulis

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *