Museum Pos Indonesia Diusulkan Jadi Cagar Budaya Nasional

Desanesia– Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menilai Museum Pos Indonesia layak ditingkatkan statusnya menjadi cagar budaya nasional. Menurutnya, museum tersebut memiliki nilai historis yang tinggi karena berada di Gedung Pos yang telah berdiri lebih dari satu abad dan sebelumnya telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat kota.
“Saya kira ini sangat pantas menjadi cagar budaya nasional. Bangunan ini usianya sudah lebih dari 100 tahun dan menjadi bagian penting dari sejarah bangsa,” ujarnya di sela-sela mengunjungi Museum Pos Indonesia di Jalan Cilaki, Kota Bandung, Jumat petang (3/7). Turut mendampingi, Direktur Komersial PT Pos Indonesia (Persero) Fahdel Akbar, beserta jajaran manajemen PT Pos Indonesia.
Fadli Zon mendorong penataan Museum Pos Indonesia terus ditingkatkan agar koleksi-koleksi bersejarah yang dimiliki dapat dipamerkan secara lebih representatif dan mudah dinikmati masyarakat.
Menurutnya, berbagai koleksi seperti prangko, surat, peralatan pos, hingga perlengkapan pengiriman dari berbagai era merupakan bagian penting dari perjalanan sejarah Indonesia yang perlu dikenalkan kepada generasi muda. Ia menegaskan, Pos Indonesia tidak hanya berperan sebagai penyedia layanan komunikasi, tetapi juga menjadi saksi perjalanan bangsa sejak masa perjuangan kemerdekaan.
Selain itu, Menteri Kebudayaan mengajak Pos Indonesia menghidupkan kembali tradisi menulis surat, khususnya di kalangan pelajar. Menurutnya, kebiasaan menulis surat dengan tangan mampu membangun kreativitas, ekspresi, dan kedekatan emosional yang tidak tergantikan oleh teknologi digital.
Ia mencontohkan lomba menulis surat kepada pahlawan yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan tahun lalu berhasil menghimpun sekitar 34.000 surat dari siswa SD, SMP, SMA hingga mahasiswa di berbagai daerah. Seluruh surat ditulis di atas kertas, dimasukkan ke dalam amplop, ditempeli prangko, lalu dikirim melalui layanan Pos Indonesia hingga mencapai sekitar 20 kontainer plastik.
Fadli menilai tingginya antusiasme peserta menjadi bukti bahwa budaya berkirim surat masih memiliki tempat di tengah masyarakat. Ia juga menegaskan bahwa prangko dan filateli tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya dunia yang memiliki banyak kolektor dan rutin dipamerkan dalam berbagai ajang internasional.
Sementara itu, Direktur Komersial PT Pos Indonesia (Persero), Fahdel Akbar, mengapresiasi perhatian Kementerian Kebudayaan terhadap Museum Pos Indonesia dan menegaskan komitmen perusahaan untuk terus menjaga serta melestarikan warisan sejarah tersebut sebagai bagian dari perjalanan bangsa.
“Pos Indonesia menyambut baik dukungan Kementerian Kebudayaan dalam upaya pelestarian Museum Pos Indonesia. Kami berkomitmen untuk terus merawat, mengembangkan, dan menghadirkan museum ini sebagai ruang edukasi yang menarik bagi masyarakat, khususnya generasi muda, agar semakin mengenal sejarah komunikasi dan perjalanan Pos Indonesia dalam membangun negeri,” ujarnya.
Direktur Komersial PT Pos Indonesia (Persero), Fahdel Akbar, mengatakan pihaknya akan terus berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menghadirkan program edukasi yang mendorong budaya literasi. Upaya tersebut dilakukan melalui pelestarian tradisi berkirim surat, pengembangan filateli, serta pemanfaatan aset bersejarah Pos Indonesia sebagai media pembelajaran.
Museum Pos Indonesia di Jalan Cilaki, Kota Bandung, merupakan salah satu museum sejarah komunikasi tertua di Indonesia. Museum yang menempati Gedung Pos berusia lebih dari satu abad itu menyimpan ribuan koleksi, seperti prangko, surat, peralatan pos, dokumen bersejarah, hingga perangkat telekomunikasi. Salah satu koleksi unggulannya adalah filateli yang merekam berbagai peristiwa penting dalam sejarah Indonesia melalui penerbitan prangko. [nfa]








