Nasional

KPSBU Lembang Kejar Target 150 Ton Produksi Susu dengan Pembenahan Sistem Peternak

Peternak sapi perah menjalankan proses pemerahan secara manual di kandang ternak. (Desanesia/Alvin Iskandar)

Desanesia – Produksi susu segar Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Lembang di Kabupaten Bandung Barat belum kembali menyentuh target 150 ton per hari. Saat ini, volume harian masih berada di rentang 100 hingga 122 ton, sehingga terdapat kekurangan sekira 30 ton yang perlu dipenuhi melalui pembenahan menyeluruh di level peternak.

Ketua KPSBU Lembang, Dedi Setiadi menegaskan, upaya menaikkan produksi tidak dapat dilakukan secara cepat tanpa fondasi yang kuat. Ia menilai, peningkatan kuantitas tanpa perbaikan tata kelola justru berpotensi menurunkan mutu hasil.

“Di susu itu tidak bisa instan. Perbaikannya harus terstruktur, mulai dari manajemen kandang, kebersihan, pemerahan, baru kemudian pakan,” kata Dedi saat ditemui, Sabtu, 28 Februari 2026.

Dedi memaparkan, performa sapi perah ditentukan oleh tiga pilar utama, yakni breeding, feeding, serta manajemen.

Breeding menyangkut kualitas genetik sapi, feeding berkaitan dengan formulasi dan ketepatan pemberian pakan, sementara manajemen mencakup tata kelola kandang, sanitasi, serta prosedur pemerahan yang higienis,” jelasnya.

Ia menekankan, ketiga aspek tersebut tidak dapat dipisahkan dalam praktik di lapangan. Bibit unggul tanpa dukungan nutrisi memadai tidak akan menghasilkan produktivitas optimal.

“Sebaliknya, pakan baik tanpa manajemen disiplin juga tidak akan menghasilkan peningkatan signifikan,” ujarnya.

Di luar faktor teknis, koperasi turut memberi perhatian pada daya tahan ternak. Suplementasi vitamin serta pemeriksaan kesehatan berkala dianggap krusial untuk menjaga kestabilan hasil produksi, terutama di tengah perubahan cuaca dan kondisi lingkungan yang memengaruhi performa sapi.

Untuk memastikan standar tetap terjaga, KPSBU menerapkan pengawasan berjenjang. Unit IB Keswan hampir setiap hari berhubungan langsung dengan anggota.

“Di lapangan, tester, Petugas Administrasi Daerah (PAD), hingga sopir pengangkut susu bertemu peternak dua kali sehari saat pengambilan susu pagi dan sore,” imbuhnya.

Pada level kawasan, Koordinator Wilayah (Korwil) menjalankan fungsi pembinaan teknis serta penguatan koordinasi. Empat unsur tersebut menjadi rantai pengendali mutu sekaligus menjamin prosedur pemerahan dan pemeliharaan sesuai ketentuan.

“Mereka memberi panduan bagaimana pemerahan yang baik, pakan yang baik, dan cara memelihara yang baik. Ilmunya sudah ada, tinggal konsistensi di lapangan,” tukasnya.

Melalui skema tersebut, koperasi membidik capaian kembali ke angka 150 ton per hari. Dengan demikian, selisih sekitar 30 ton harus ditutup lewat perbaikan genetika, optimalisasi ransum, serta kedisiplinan tata kelola di tingkat anggota.

Dedi menegaskan, pencapaian target bukan sekadar persoalan nominal produksi. Kenaikan output akan berdampak langsung pada kesejahteraan peternak sekaligus memperkuat posisi koperasi dalam memenuhi permintaan susu nasional yang terus meningkat.

“Target harus kita kejar. Tapi caranya tetap terukur dan berkelanjutan,” tandasnya. (Alvin Iskandar)

Penulis

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *