Nasional

Kepastian Pasar MBG Dorong Arah Baru Industri Sapi Perah Lembang

Peternak sapi perah menjalankan proses pemerahan secara manual di kandang ternak. (Desanesia/Alvin Iskandar)

Desanesia – Industri sapi perah di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, tengah menghadapi perubahan besar akibat tekanan lingkungan sekaligus peluang kebijakan nasional. Tantangan iklim ekstrem dan kondisi ekonomi domestik berjalan beriringan dengan munculnya kepastian pasar baru dari program pemerintah.

Ketua Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Lembang, Dedi Setiadi menyampaikan, situasi usaha peternakan saat ini berada dalam fase penuh tantangan. Perubahan cuaca disebut berpengaruh langsung terhadap kesehatan ternak serta volume produksi susu harian.

“Sementara kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil ikut memengaruhi pola konsumsi masyarakat,” ucap Dedi saat ditemui, Sabtu, 28 Februari 2026.

Ia menilai sektor sapi perah belum berada pada kondisi ideal karena peternak harus menjaga produksi di tengah kenaikan biaya operasional. Pengeluaran untuk pakan serta layanan kesehatan hewan terus mengalami penyesuaian seiring dinamika usaha.

Namun dinamika berubah setelah susu masuk dalam skema wajib pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Status mandatori tersebut dinilai menciptakan permintaan yang lebih stabil dan terukur.

Menurutnya, kepastian penyerapan hasil produksi menjadi faktor utama bagi keberlanjutan usaha peternak. Kejelasan pasar membantu mengurangi risiko fluktuasi penjualan sekaligus membuka peluang penyusunan rencana bisnis jangka panjang.

Karakteristik susu segar berbeda dibandingkan komoditas lain karena distribusi berlangsung rutin dengan kepastian pembayaran lebih terjaga. Meski prospek pertumbuhan terbuka, persoalan pembiayaan masih menjadi perhatian utama koperasi.

“Penambahan populasi sapi menjadi prasyarat utama jika ingin meningkatkan volume produksi. Tanpa ekspansi ternak, tambahan permintaan tidak akan mampu dipenuhi secara optimal,” terangnya.

Selama ini koperasi menyediakan fasilitas pinjaman internal tanpa bunga yang difokuskan pada kebutuhan sosial anggota. Untuk mendukung pengembangan usaha, KPSBU menjalin kerja sama dengan sektor perbankan agar peternak memperoleh akses pembiayaan produktif.

Dukungan pembiayaan juga ditawarkan Pusat Investasi Pemerintah (PIP) melalui skema bunga maksimal empat persen. Opsi tersebut masih dalam tahap kajian dengan mempertimbangkan kesiapan anggota menjaga stabilitas arus kas.

Dedi menegaskan, langkah ekspansi harus dilakukan secara terukur dan berbasis perhitungan matang. Penambahan kewajiban finansial perlu diiringi peningkatan populasi ternak serta produktivitas usaha.

“Jika tidak, beban cicilan justru bisa menggerus keuntungan peternak,” katanya.

Dengan peluang pasar yang semakin terbuka disertai risiko usaha yang tetap tinggi, sektor sapi perah Lembang kini berada pada titik penentuan arah perkembangan. Kebijakan nasional berpotensi menjadi pendorong pertumbuhan apabila diikuti pengelolaan populasi, strategi pembiayaan, serta adaptasi terhadap perubahan iklim yang semakin kompleks. (Alvin Iskandar)

Penulis

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *