InovasiInspirasi Desa

Bertani Berbasis Data, Cara Desa Krandegan Tekan Risiko Gagal Panen

Bentang alam Desa Krandegan terlihat hijau dengan hamparan sawah yang membentang, mencerminkan potensi pertanian dan ketahanan pangan desa. (Pemdes Krandegan)

Desanesia – Perubahan iklim yang kian sulit diprediksi mendorong Desa Krandegan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, mengubah cara bertani warganya. Untuk menekan risiko gagal panen dan serangan organisme pengganggu tanaman, petani kini memanfaatkan data cuaca real time sebagai dasar pengambilan keputusan di lahan pertanian.

Pendekatan berbasis data tersebut diterapkan setelah pemerintah desa memasang Automatic Weather Station (AWS) atau stasiun cuaca otomatis yang merekam kondisi alam secara berkelanjutan dan menyajikan informasinya melalui aplikasi serta laman resmi desa.

Kepala Desa Krandegan, Dwinanto, menyampaikan, pemanfaatan teknologi tersebut dirancang untuk menjawab ketidakpastian cuaca sekaligus membantu petani menghadapi ancaman hama yang selama ini kerap menimbulkan kerugian.

“Ini sebagai usaha kita agar para petani sejahtera, teknologi kita manfaatkan untuk membantu petani,” kata Dwinanto, Minggu, 18 Januari 2025.

Sebelum teknologi tersebut diterapkan, penentuan masa tanam dan perawatan tanaman sepenuhnya bertumpu pada pengalaman turun-temurun. Namun, perubahan pola iklim membuat metode lama tersebut tidak selalu selaras dengan kondisi lapangan.

Pergeseran musim hujan, durasi kemarau yang lebih panjang, serta fluktuasi suhu yang tidak menentu menyebabkan serangan hama kerap terdeteksi ketika tanaman sudah mengalami kerusakan.

“Biasanya kami tahu ada serangan hama setelah tanaman rusak. Sudah terlambat,” imbuhnya.

Situasi tersebut mendorong pemerintah desa mencari pendekatan baru agar gejala alam dapat dikenali lebih awal. AWS yang terpasang di area persawahan Krandegan bekerja selama 24 jam untuk merekam suhu udara, tingkat kelembapan, curah hujan, arah serta kecepatan angin, dan tekanan udara.

Informasi cuaca yang terkumpul kemudian dipadukan dengan kalender Hama dan Penyakit Tanaman (HPT) guna memperkirakan potensi kemunculan organisme pengganggu tanaman, seperti wereng cokelat dan penyakit blas yang sangat dipengaruhi kondisi atmosfer.

“Dari data cuaca itu, kami bisa tahu potensi hama apa yang mungkin muncul. Jadi petani tidak lagi menunggu diserang,” papar Dwinanto.

Keunggulan Desa Krandegan terletak pada keterbukaan akses informasi. Data cuaca beserta prediksi potensi hama tidak hanya dikelola oleh penyuluh atau perangkat desa, tetapi disajikan secara daring melalui situs resmi www.krandegan.id agar dapat diakses langsung oleh petani.

“Petani bisa buka lewat HP. Jadi sebelum ke sawah, mereka sudah punya gambaran kondisi,” ucapnya.

Dengan bekal tersebut, petani mulai menyesuaikan strategi budidaya, mulai dari pengaturan waktu tanam, pemilihan varietas, penyusunan jadwal pemupukan, hingga penerapan pengendalian hama sejak dini.

Pemanfaatan informasi iklim secara bertahap mengubah cara pandang petani. Aktivitas bercocok tanam tidak lagi sepenuhnya mengandalkan intuisi, melainkan dikombinasikan dengan dasar ilmiah.

“Dulu kami hanya mengira-ngira. Sekarang ada dasarnya,” tutur Dwinanto.

Menurutnya, perubahan metode berkontribusi pada penurunan risiko gagal panen serta meningkatkan kesiapsiagaan petani dalam menghadapi cuaca ekstrem. Selain itu, penggunaan AWS menjadi bagian dari strategi adaptasi desa terhadap dampak perubahan iklim yang semakin nyata.

“Keberadaan AWS juga menjadi bentuk adaptasi desa terhadap perubahan iklim yang kian nyata. Ketika pola cuaca sulit ditebak, data menjadi alat bertahan,” kata Dwinanto.

Ia menilai, stabilitas hasil panen berdampak langsung pada penguatan ketahanan pangan desa sekaligus menjaga keberlanjutan pendapatan petani.

“Kalau desa kuat, negara kuat,” ujarnya.

Langkah Desa Krandegan menunjukkan, teknologi pertanian tidak harus rumit atau berbiaya tinggi. Dengan pendekatan yang relevan dengan kebutuhan petani, data cuaca kini berfungsi sebagai alat untuk membaca alam lebih dini sebelum risiko benar-benar muncul.

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *