Menag Soroti Konsistensi MTQ Indonesia Selama Lebih dari Lima Dekade

Desanesia– Menteri Agama Nasaruddin Umar menyoroti konsistensi Indonesia dalam menyelenggarakan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) selama lebih dari lima dekade. Sejak pertama kali digelar pada 1968, MTQ telah berkembang dan dilaksanakan secara berjenjang mulai dari tingkat masyarakat hingga nasional.
Hal tersebut disampaikan Nasaruddin saat melantik tujuh Dewan Pengawas dan 155 Dewan Hakim MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (12/9). Pelantikan ditandai dengan pembacaan baiat dan pemasangan toga kepada para dewan hakim.
“Tidak ada negara yang konsisten mulai 1968 hingga tahun ini bisa melaksanakan MTQ mulai dari tingkat RT, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, dan nasional,” kata Nasaruddin.
Menurut Nasaruddin, meningkatnya jumlah penyelenggaraan MTQ tingkat nasional menunjukkan besarnya perhatian dan kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur’an. Saat ini, berbagai lembaga turut menggelar MTQ, mulai dari Korpri, Polri, buruh, perguruan tinggi hingga BUMN.
“Saat ini sedang tren bukan hanya yang dilakukan oleh LPTQ, tetapi hampir 25 event MTQ tingkat nasional yang dilakukan di Indonesia. Ada MTQ Korpri, MTQ Polri, MTQ Buruh, MTQ Perguruan Tinggi, MTQ BUMN, dan masih banyak lagi,” ujarnya.
Ia menilai perkembangan tersebut perlu diikuti dengan koordinasi dan standardisasi, khususnya dalam aspek perhakiman. Nasaruddin berharap seluruh penyelenggaraan MTQ tingkat nasional dapat berada dalam koordinasi Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) terkait sistem perhakiman.
Nasaruddin juga melihat maraknya penyelenggaraan MTQ sebagai bagian dari upaya membumikan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah masyarakat. Menurutnya, kecintaan terhadap Al-Qur’an perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Timbul fenomena kecintaan umat terhadap Al-Qur’an, ini menjadi bagian dari proses membumikan Al-Qur’an. Tidak ada artinya kita membumikan Al-Qur’an jika tidak melangitkan manusia,” katanya. [nfa]









