Nasional

Hadapi Ancaman Bencana, Muhammadiyah Perkuat Kapasitas Daerah

Ketua LRB PP Muhammadiyah, Budi Setiawan/Muhammadiyah

Desanesia –  

Desanesia – Muhammadiyah mendorong penguatan kapasitas masyarakat di berbagai daerah sebagai langkah menghadapi ancaman bencana yang semakin beragam. Penguatan tersebut dilakukan melalui pelatihan, simulasi, kaderisasi, hingga penguatan kelembagaan Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) agar kesiapsiagaan tidak hanya terpusat di tingkat pusat, tetapi juga tumbuh di wilayah.

Upaya tersebut menjadi salah satu fokus Rapat Kerja Nasional (Rakernas) LRB Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2026 yang digelar di Aula Saraswati, Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Yogyakarta, Jumat (11/9).

Ketua LRB PP Muhammadiyah, Budi Setiawan mengatakan penguatan kapasitas daerah menjadi penting karena masyarakat menghadapi beragam ancaman, mulai dari banjir, gempa bumi, erupsi gunung api, kebakaran hutan dan lahan, hingga krisis iklim.

Menurutnya, Muhammadiyah memiliki modal sosial yang kuat untuk memperkuat kesiapsiagaan tersebut. Jaringan organisasi yang luas dan kepercayaan publik dinilai dapat menjadi kekuatan dalam membangun koordinasi penanggulangan bencana di berbagai wilayah.

“Kekuatan Muhammadiyah ada pada jaringan dan kepercayaan publik, oleh karena itu perlu penyatuan langkah,” ucap Budi.

Penyatuan langkah itu akan diperkuat melalui berbagai program yang menyentuh langsung kapasitas sumber daya manusia di daerah. Pelatihan dan simulasi menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan kader dalam menghadapi kondisi darurat, sementara kaderisasi dan penguatan kelembagaan diarahkan untuk memastikan kerja-kerja kebencanaan dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Tak hanya mengandalkan sumber daya manusia, LRB Muhammadiyah juga mendorong pemanfaatan teknologi dalam penanggulangan bencana. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk pemetaan risiko, pengelolaan data, hingga pengembangan sistem informasi relawan.

Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan membuat respons kebencanaan Muhammadiyah semakin cepat, tepat, dan akuntabel.

Namun, Budi mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tetap harus berjalan bersama kekuatan sosial dan budaya masyarakat.

“Teknologi tanpa akar budaya akan kering. Kearifan lokal seperti lumbung pangan dan gotong royong adalah modal besar bersama,” ujarnya.

Karena itu, penguatan kapasitas daerah tidak hanya diarahkan pada kemampuan teknis menghadapi bencana, tetapi juga pada pemanfaatan potensi lokal yang telah hidup di tengah masyarakat. Gotong royong dan kekuatan komunitas menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang mampu bertahan dan pulih ketika bencana terjadi.

Dengan demikian, kesiapsiagaan bencana tidak berhenti pada respons ketika bencana terjadi, tetapi dibangun sejak dini melalui kapasitas masyarakat, kekuatan kelembagaan, teknologi, dan kearifan lokal.

 

Penulis

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *