Sikapi Erupsi GAK, Menkomdigi Meutya Hafid Imbau Masyarakat Tetap Tenang dan Saring Informasi

Desanesia – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengimbau masyarakat agar tetap tenang namun senantiasa meningkatkan kewaspadaan menyusul meningkatnya aktivitas vulkanik serta erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).
Imbauan ini ditekankan untuk meredam kekhawatiran publik sekaligus mencegah meluasnya disinformasi dan isu potensi tsunami yang sempat memicu keresahan warga di berbagai wilayah terdampak.
Aktivitas erupsi GAK sebelumnya dilaporkan menimbulkan sejumlah dampak nyata, mulai dari pembatalan jadwal penerbangan hingga dentuman serta getaran yang dirasakan oleh sebagian masyarakat di wilayah Jawa Barat. Di tengah situasi tersebut, Menkomdigi mengingatkan pentingnya sikap bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi.
“Yang paling penting adalah tetap tenang, tetapi jangan mengurangi kewaspadaan. Masyarakat perlu mengikuti arahan dari otoritas terkait dan memastikan informasi yang diterima berasal dari sumber yang dapat dipercaya,” ujar Menkomdigi Meutya di Jakarta, Minggu, (6/9).
Menkomdigi menekankan agar masyarakat tidak mudah percaya pada kabar burung atau berita yang belum terverifikasi kebenarannya, khususnya yang beredar di ruang digital dan media sosial. Guna menghindari informasi yang menyesatkan (misleading), publik diminta untuk memantau perkembangan situasi kebencanaan secara berkala melalui kanal resmi pemerintah yang memiliki kewenangan di bidangnya.
Beberapa instansi resmi yang menjadi rujukan utama meliputi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta pemerintah daerah setempat.
“Pastikan keakuratan informasi dari pihak-pihak yang memiliki kewenangan terkait kebencanaan gunung berapi demi menghindari misinformasi atau misleading yang dapat menyebabkan keresahan,” tegas Meutya.
Meutya mendorong masyarakat untuk memperketat saring informasi sebelum membagikannya kembali ke ruang publik. Penyebaran informasi palsu di tengah situasi darurat dinilai dapat memperkeruh keadaan dan merugikan keselamatan banyak pihak.
“Dalam situasi seperti ini, informasi yang tidak benar dapat menimbulkan kepanikan. Karena itu, saring sebelum sharing. Pastikan informasi yang kita terima berasal dari sumber resmi dan dapat dipertanggungjawabkan,” pungkasnya.
Kesadaran untuk selalu menyaring informasi sebelum membagikannya menjadi kunci utama dalam menjaga kondusivitas masyarakat di tengah situasi darurat, sekaligus memastikan keselamatan bersama melalui rujukan data yang valid dari instansi berwenang.









