Pemerintah Siapkan Rp5 Triliun Dana Siap Pakai untuk Penanganan Bencana

Desanesia– Pemerintah menyiapkan Dana Siap Pakai (on-call) sebesar Rp5 triliun untuk memperkuat penanganan bencana di berbagai wilayah Indonesia. Anggaran tersebut juga dapat digunakan untuk mendukung respons darurat pascagempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan dana tersebut bersifat fleksibel dan dapat ditambah apabila kebutuhan penanganan bencana di lapangan melebihi alokasi awal. Penambahan anggaran akan dilakukan berdasarkan pengajuan resmi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
“Dana bencana itu selalu siaga di angka Rp5 triliun. Tapi kalau kurang, kita tambah lagi, tergantung kebutuhan yang diajukan BNPB,” ujar Purbaya di Jakarta, Senin (17/8).
Menurut Purbaya, pemerintah juga memastikan proses pencairan anggaran untuk kebutuhan kebencanaan dapat dilakukan secara cepat. Mekanisme tersebut disiapkan agar keterbatasan pembiayaan tidak menghambat proses evakuasi, penyelamatan warga maupun penyaluran bantuan.
“Begitu ada permintaan resmi masuk, kami langsung tindak lanjuti dengan cepat. Khusus untuk kebutuhan bencana, SOP kita memang dirancang responsif, selama permintaannya jelas,” tegasnya.
Selain dana yang disiapkan pemerintah melalui Kementerian Keuangan, BNPB juga memiliki dana operasional siap pakai untuk mendukung penanganan tahap awal di lokasi bencana.
“Di BNPB juga sudah tersedia dana yang siap digunakan, sekitar Rp500 miliar dalam posisi siaga. Kalau kurang, kami tambahkan kembali,” kata Purbaya.
Dukungan anggaran tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mempercepat penanganan dampak gempa Nagekeo. Gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT pada Sabtu (15/8) sekitar pukul 05.58 WITA.
Berdasarkan data BNPB hingga Minggu (16/8) malam, gempa tersebut menyebabkan 54 orang meninggal dunia dan 199 warga mengalami luka-luka. Sebanyak 9.963 jiwa juga tercatat mengungsi, sementara 1.528 kepala keluarga terdampak bencana.
Kerusakan tercatat pada 2.403 rumah, terdiri atas 1.543 rumah rusak berat, 328 rusak sedang, dan 532 rusak ringan. Selain itu, sebanyak 211 fasilitas kesehatan terdampak, termasuk 21 rumah sakit dan 190 puskesmas.
Dampak gempa juga dirasakan pada sektor pendidikan dan fasilitas publik. Sebanyak 110 fasilitas pendidikan terdampak, disusul 105 kantor, 65 rumah ibadah, 42 fasilitas umum, 34 titik jalan, 18 fasilitas irigasi, serta satu gudang Perum Bulog yang mengalami kerusakan.
Pemerintah memastikan dukungan pembiayaan akan terus disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan agar proses penanganan darurat, distribusi logistik, hingga pemulihan infrastruktur di wilayah terdampak dapat berjalan optimal. [nfa]









