Inovasi

UM Luncurkan Instrumen AI-DCA untuk Deteksi Dini “Cognitive Atrophy” pada Remaja

ilustrasi gambar/Shutterstock

Desanesia – Universitas Negeri Malang meluncurkan instrumen baru bernama Skala Asesmen AI-Dependency & Cognitive Atrophy (AI-DCA) sebuah alat yang dirancang khusus untuk mengenali peringatan dini ketergantungan pada kecerdasan buatan dan penurunan kapasitas berpikir akibat terlalu banyak mengandalkan algoritma, Jumat, (

Kehadiran instrumen ini muncul dari kekhawatiran yang semakin nyata. Pola interaksi antara manusia dan AI telah berubah drastis dalam beberapa tahun terakhir, namun alat ukur lama terbukti tidak mampu lagi menangkap kompleksitas persoalan tersebut.

Ketua tim dosen Prof. Dr. Arbin Janu Setiyowati, M.Pd dari Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UM, yang telah mengidentifikasi gelombang baru masalah psikologis di kalangan remaja.

Menurut Prof. Arbin, generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dari yang dibayangkan orang tua dan pendidik mereka sebelumnya.

“Remaja saat ini hidup dalam realitas yang berbeda. Mereka bukan hanya sekadar ‘kecanduan gawai’, tetapi mulai kehilangan kemampuan berpikir mandiri karena segala sesuatu ditanyakan dan dikerjakan oleh AI,” ungkapnya dikutip dari kliping.um.ac.id.

Fenomena ini bukan sekadar kehilangan motivasi. Di balik permukaan, terjadi degradasi psikologis yang lebih dalam menurunnya self-efficacy (keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri) dan munculnya generative imposter phenomenon, yakni rasa tidak percaya diri yang muncul ketika tugas dan pekerjaan lebih banyak diselesaikan oleh mesin daripada individu itu sendiri.

Dalam pandangan Prof. Arbin, pengembangan AI-DCA bukan sekadar upaya akademik, melainkan investasi strategis untuk masa depan bangsa. Beliau menekankan pentingnya tindakan preventif sebelum masalah semakin meluas ke populasi yang lebih luas.

“Ini adalah investasi jangka panjang. Kami tidak hanya membuat alat ukur, tetapi menyelamatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Jika dibiarkan, kita akan melahirkan generasi yang pintar menggunakan AI tetapi lemah dalam berpikir,” katanya.

Instrumen AI-DCA diharapkan dapat menjadi panduan bagi pendidik, orang tua, dan praktisi kesehatan mental untuk mendeteksi dini tanda-tanda cognitive atrophy pada remaja, sehingga intervensi dapat dilakukan sebelum kerusakan kapasitas berpikir menjadi permanen.

Penulis

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *