Budaya

Mendagri Tito Dorong Desa Adat Matabesi Jadi Warisan Budaya dan Destinasi Wisata

Mendagri Muhammad Tito Karnavian mengunjungi Desa Adat Matabesi di Kabupaten Belu, NTT/Ist

Desanesia– Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengapresiasi upaya masyarakat Desa Adat Matabesi, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), dalam menjaga kelestarian adat dan budaya. Saat mengunjungi desa tersebut pada Minggu (28/6), Tito menilai Matabesi memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai warisan budaya sekaligus destinasi wisata.

Menurutnya, desa ini memiliki keunikan tersendiri, dengan rumah adat yang telah bertahan selama ratusan tahun serta lingkungan yang masih asri dan dipenuhi pepohonan tua.

“Kali ini saya lihat ada sesuatu yang lain di sini. Jadi mirip-mirip dengan Wae Rebo, tapi punya kekhasan sendiri, sejarah sendiri. Kalau di sana harus jalan dua jam katanya. Di sini naik mobil langsung jadi. Artinya kemudahan untuk turis lebih mudah,” katanya.

Mendagri menilai nilai sejarah Desa Adat Matabesi akan semakin kuat jika terus ditelusuri dan didokumentasikan secara baik. Langkah tersebut dinilai penting agar sejarah, adat, dan budaya yang telah diwariskan selama ratusan tahun dapat terus dikenal oleh generasi mendatang.

Ia juga mengapresiasi komitmen Pemerintah Kabupaten Belu dalam menjaga dan melestarikan keberadaan desa adat tersebut.

“Saya berterima kasih, apresiasi saya kepada Pak Bupati [Belu] yang melestarikan tempat ini. Makasih, Pak, hanya yang punya passion yang mau begini,” ujarnya.

Informasi dari ipol.id, dalam kunjungan itu, Mendagri juga meninjau pembangunan Museum Fohorai di Desa Adat Matabesi. Ia menilai museum tersebut memiliki potensi menjadi pusat edukasi budaya jika dilengkapi koleksi yang menggambarkan kehidupan masyarakat adat, mulai dari tenun, tradisi, pertanian, peternakan, hingga pengolahan kemiri.

Tito juga menegaskan bahwa keberlangsungan warisan budaya tersebut tidak lepas dari peran para tetua adat dan masyarakat yang terus menjaga nilai-nilai leluhur.

“Saya memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada tetua-tetua adat yang ada di sini. Masyarakat adat yang ini. Di tengah-tengah kehidupan modern. Kita tidak harus berganti dengan modern. Tapi kita bisa mempertahankan dan banyak filosofi-filosofi di masa lalu yang dipertahankan,” ungkapnya.

Mendagri mengatakan pengalaman sejumlah daerah menunjukkan bahwa modernisasi dapat mengikis keberadaan budaya lokal jika tidak diimbangi upaya pelestarian.

Ia mencontohkan kondisi di Hawaii, di mana banyak desa adat telah berganti menjadi kawasan modern dan budaya asli lebih banyak ditampilkan sebagai atraksi wisata. Karena itu, ia mengingatkan agar pembangunan tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga identitas serta warisan budaya masyarakat.

“Kita tetap melakukan modernisasi di titik tertentu, tapi di bagian tertentu harus kita jaga seperti ini. Supaya menjadi objek, salah satu objek wisata, dan juga menjadi monumen bersejarah yang itu akan berguna untuk anak cucu kita. Biar dia tahu di mana grassroot-nya,” pungkasnya.

Turut hadir dalam kunjungan ke Desa Adat Matabesi itu Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Bupati Belu Willybrodus Lay, Ketua Umum Tim Penggerak PKK sekaligus Ketua Harian Dekranas Tri Tito Karnavian, pengurus TP PKK Provinsi NTT dan Kabupaten Belu, serta para kepala suku dan masyarakat adat Matabesi. [nfa]

Penulis

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *