Bukan Sekadar Pengguna, Indonesia Targetkan Bisa Pegang Kendali AI

Desanesia – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan bahwa tantangan utama bukan lagi rendahnya adopsi teknologi, melainkan bagaimana optimisme publik bisa diwujudkan menjadi hasil konkret.
“Bukan pada potensinya, melainkan pada konversinya. Bagaimana kita mengubah antusiasme menjadi dampak nyata?” ujarnya dalam keterangannya di Forum Huawei Enterprise Indonesia Partner Summit 2026 di Jakarta Selatan, Rabu, (29/4).
Nezar menyebut, penerimaan masyarakat terhadap AI cukup tinggi. Sekitar 76 persen warga menilai teknologi ini lebih banyak membawa manfaat dibandingkan risiko.
“Dengan momentum yang kita miliki saat ini, Indonesia tidak pernah kekurangan ambisi. Yang kita alami sekarang adalah kurangnya ketelitian, khususnya saat kita menavigasi era AI di mana laju perkembangan tidak menunggu siapa pun,” tuturnya.
Pemerintah berkomitmen mengubah posisi Indonesia dalam ekosistem global, dari sekadar pengguna menjadi aktor yang mampu merancang arah dan kepentingannya sendiri.
“Kami berkomitmen untuk membentuk jalan ke depan agar dapat beralih dari pengguna AI yang optimis menjadi arsitek strategis kedaulatan AI kita,” tandas Wamen Nezar Patria.
Sebagai langkah strategis, pemerintah menyiapkan peta jalan AI nasional yang menjadi panduan agar pengembangan teknologi berjalan etis, inklusif, dan tetap mendorong inovasi.
“Peta jalan AI nasional kami berfungsi sebagai fondasi strategis, visi hidup yang memandu pengembangan AI di Indonesia agar beretika, inklusif, dan didorong oleh inovasi,” ungkapnya.
Nezar juga menekankan tiga fokus utama, mempercepat pemanfaatan AI di sektor penting seperti kesehatan, pendidikan, dan layanan publik, memastikan etika dan kepercayaan serta memprioritaskan inklusivitas.
“Pertama, mempercepat adopsi di tempat yang paling penting. Menerapkan AI di sektor strategis seperti kesehatan, pendidikan, dan layanan publik. Kedua, memastikan etika dan kepercayaan. Dan ketiga, memprioritaskan inklusivitas,” jelasnya.
Ia menambahkan, percepatan transformasi tidak bisa dilakukan sendiri. Kolaborasi lintas sektor dan lintas negara menjadi kunci agar ambisi bisa diwujudkan secara nyata.
“Mengubah ambisi menjadi eksekusi membutuhkan kekuatan penuh dari ekosistem digital kolaboratif untuk bergerak secara sinergis,” tegasnya.
Dalam konteks itu, kemitraan dengan Huawei dipandang penting untuk mempercepat pembangunan ekosistem AI nasional, mulai dari infrastruktur hingga pengembangan talenta digital.
“Jalan ke depan untuk membentuk masa depan AI di Indonesia akan ditentukan oleh kemitraan yang mampu mengubah ambisi kita menjadi eksekusi,” tuturnya. [fai]








