Desapolitan

UMKM Dongkrak Ekonomi, Jawa Tengah Klaim Tak Ada Lagi Desa Sangat Tertinggal

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi. (Dok. Humas Pemprov Jateng)

Desanesia – Penguatan ekonomi berbasis desa di Jawa Tengah menunjukkan hasil konkret melalui peningkatan status desa dan meluasnya aktivitas usaha masyarakat. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menegaskan, pengembangan UMKM telah menghapus kategori desa sangat tertinggal dan terpencil di wilayahnya.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi mengatakan, UMKM menjadi penggerak utama perekonomian perdesaan karena mampu menjangkau hingga wilayah terluar. Aktivitas ekonomi tumbuh dari usaha rumah tangga, pengolahan komoditas pertanian, hingga kerajinan lokal yang menopang pendapatan warga.

“Itu potensi desa yang perlu kita kembangkan. Artinya perlu kita tingkatkan lagi,” ujar Luthfi saat menghadiri Puncak Peringatan Hari Desa Nasional di Lapangan Kawasan Kebun Raya Indrokilo, Desa Butuh, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, Kamis, 15 Januari 2026.

Selain mendorong ekonomi lokal, sejumlah desa di Jawa Tengah telah naik kelas menjadi Desa Ekspor karena memiliki usaha menengah dengan standar pasar internasional. Menurut Gubernur, momentum Hari Desa Nasional harus dimanfaatkan untuk mempercepat penguatan UMKM di seluruh kabupaten.

Ia menjelaskan, Jawa Tengah merupakan provinsi dengan jumlah desa terbanyak secara nasional, yakni mencapai 7.810 desa yang tersebar di 29 kabupaten.

Berdasarkan Indeks Desa Jawa Tengah Tahun 2025, tidak ada lagi desa berstatus sangat tertinggal. Rinciannya mencakup 2.208 desa mandiri, 3.921 desa maju, 1.666 desa berkembang, serta 15 desa tertinggal yang diprioritaskan mendapat intervensi agar meningkat statusnya.

Atas capaian tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyatakan komitmen berkelanjutan dalam mendorong pembangunan desa. Gubernur menegaskan bahwa desa memiliki posisi strategis sebagai fondasi pembangunan daerah sekaligus nasional.

Ia menambahkan, implementasi program pembangunan desa telah memperlihatkan progres signifikan. Saat ini terdapat 154 kawasan perdesaan yang dikembangkan sesuai potensi wilayah, meliputi sektor pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata, industri, dan peternakan.

Di sektor energi, Jawa Tengah memiliki 2.331 Desa Mandiri Energi yang terdiri dari 2.138 desa inisiatif, 165 desa berkembang, dan 28 desa mapan. Sementara itu, sektor pariwisata mencatat 899 desa atau kampung wisata dengan klasifikasi 687 desa rintisan, 173 desa berkembang, dan 39 desa maju.

Pengembangan perdesaan juga diperkuat melalui program Satu Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Satu Desa Binaan atau Dampingan yang diarahkan sebagai instrumen penanggulangan kemiskinan.

Pada tahun 2025, program tersebut menjangkau 76 desa dampingan yang didukung oleh 49 OPD Provinsi Jawa Tengah. Selama periode 2019–2025, sebanyak 452 desa telah mendapatkan pendampingan dengan total anggaran sekitar Rp112,5 miliar yang bersumber dari APBN, APBD, Dana Desa, serta dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *